Sunday, December 4, 2022

Catatan Akhir Tahun

Alhamdulillah sudah bulan Desember dan beberapa hari lagi sudah tahun 2023.

"Manusia hanya bisa merencanakan, dan Allah yang menentukan" 
Kalimat inilah yang membuat Saya kuat, namun sebagai tameng akibat minimnya usaha dalam realisasi rencana. Dalam hidup, banyak variable yang tidak dapat Saya kontrol, selalu ada saja yang tidak sesuai harapan.Mau marah itu kehendak Tuhan, tapi untuk tidak marah, Saya belum bisa karena suatu kewajaran jika manusia memiliki emosi.

Tahukah kamu, apa yang menjadi asalan untuk bertahan hidup? Saya memikirkannya cukup lama, dan jawabannya terlanjur dilahirkan. Saya memang tidak pernah meminta untuk dilahirkan, namun Allah memilihnya. Jika sudah terpilih artinya Saya siap dan mampu melakukannya. Sebab tidak mungkin seseorang terpilih jika tidak memiliki kemampuan, arah dan tujuan. 

Sayangnya, dunia begitu keras untuk manusia yang serakah dan berlomba. Berdesakan, saling menjatuhkan, dan begitu kompetitif. Saya yang hanya ikut andil dalam desakan ini berusaha untuk bertahan hidup agar sampai juga pada tujuan akhir.. 

Sebetulnya, apa yang dicari di dunia ini? 
Jawabannya akan sangat panjang karena ini harus dirunut dari awal. 
Allah menciptakan manusia hanya untuk beribadah (Az-Dzariyat : 56) kemudian Dia menjadikan manusia sebagai khalifah (Al-Baqarah : 30)
Artinya hidup yang dilakukan di dunia ini ya ibadah, mulai bangun tidur sampai tidur lagi. Apakah bosan? Yaaa sangat bosan. Dari situlah Allah menciptakan keberagaman manusia yang bersuku-suku supaya saling mengenal (Al-Hujurat :13). Dalam hidup, pasti ada masalah, maka Allah tuntun manusia pada praktek ibadah berupa sholat, infak, yang dll yang termaktub dalam 5 rukun islam. Allah juga membekali kita pedoman di dunia yaitu Al-Quran dan As-Sunnah agar tidak tersesat. 

Sholat yang kita lakukan adalah 5 waktu, persis lebih banyak di siang hari daripada pada malam hari. Mengapa ? karena masalah timbul dalam bermuamalah adalah pada siang hari, sedangkan malam hari waktunya istirahat. Dalam 5 waktu itu Allah ingin kita menyampaikan problem apa saja yang terjadi  pada rentang subuh ke dzhur. Sangat tepat sekali waktunya, dimana subuh adalah permulaan waktu, sedangkan dzhur adalah wakktu istirahat. Dalam sholat subuh kita bertemu dengan Allah dan menceritakan kegiatan apa saja yang akan dilakukan untuk hari ini, kebaikan apa yang kita tebarkan. Lalu siang nanti, kita bertemu kembali dengan Allah dan melaporkan hasilnya, serta problem yang menyertainya untuk kita minta solusinya. Begitupun seterunya sampai duhur-ashar, ashar-maghrib, maghrib-isya.. Sholat isya lah menjadi evaluasi komprehensif bagaimana waktu itu kita gunakan dalam sehari dan bermuhasabah, dosa apa yang sudah dilakukan dan berdoa semoga Allah mengampuni dosa hari ini dan memaafkan semua kesalahan yang orang lain lakukan terhadap kita. Begitu indah masyaAllah.. 

Allah juga sangat adil, memberikan keseimbangan pada kehidupan. Al-Furqan : 47 menjelaskan bahwa Allah menjadikan malam sebagai pakaian untuk tidur dan istirahat. Karena Allah tahu, kita manusia lelah seharian dengan beban dunia yang dijalani. Lalu menaapa ada yang tidak udzur untuk terjaga, namun malah sengaja tidak tidur karena terpaksa mengikuti nafsu belaka? Berjam-jam membuka sosial media, meluncur kesana kemari, yang jelek, yang bikin ketawa, yang membuat otak rusak. Pola tidur hancur akhirnya tidak sempat subuh.. Naudzubillah.. Berbeda dengan udzur karena pekerjaan malam hari, atau memang mereka yang terpaksan karena harus terjaga. Tidak masalah karena itu tetap ibadah. Mereka yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan orang yang disayangi, itupun ibadah. Hanya Al-Qur'an memberikan pedoman bagaiaman kita mengatur waktu agar lebih terstruktur. 
Begitu hebatnya Al-Qur'an

Allah kirimkan kita ke dunia lengkap dengan perbekalan, namun tetap merasa kurang dan mecari sesuatu yang fana. Mengapa seperti itu? Sudut pandang pribadi Saya mengatakan bahwa yang pertama terlalu serakah karena merasa tidak cukup dengan apa yang dimiliki, sehingga mengutuk diri karena tidak sama dengan orang lain. Saya mengartikan ini melampui batas, dan Allah tidak suka pada hambaNya yang melampui batas (Al-Maidah : 87). Saya memahami mengapa hidup Saya tidak berjalan mulus seperti yang diharapakan, karena selalu melihat mereka yang sukses lebih dahulu, menikah dan memiliki rumah lebih cepat. Saya juga tidak bersyukur sehingga (mungkin) azab ini yang sedang Saya jalani, sehingga hidup Saya selalu merasa berat (Ibrahim :7). Saya juga tidak pandai merayu Allah bagaimana harus berdoa. Sehingga Saya merasa sombong dengan dalih "Doa tidak perlu diucapkan karena Allah tahu semuanya apa yang Saya inginkan. Padahal Allah mengatakan bahwa siapa yang berdoa kepadaKu, maka Aku kabulkan (Al-Mu'min : 60). Memang betul berdoa dapat direalisasikan dengan amal, sejatinya doa yang paling ampuh adalah amal. Namun, apalah amal itu kalau sombong dan tidak mampu meminta. Semua amal-amal itu sirna karena kesombongan. Inilah jebakan nafsu dan ego, merasa paling benar, dan lupa bahwa tidak ada kebenaran selain milik Allah. 
Astagfirullaah.. 



Sunday, October 9, 2022

Happy Wedding Yul..

Tanggal 08 Oktober merupakan hari bahagia kami. Bagaimana tidak, diantara kami ada yang sudah melepas lajangnya lagi setelah bulan Mei lalu, Nisma juga melangsungkan pernikahan. Sangat disayangkan, Saya tidak bisa menghadiri pernikahan mereka karena jarak kami yang jauh hampir 3500 KM. InsyaAllah doa selalu dipanjatkan dari sini ke nun jauh di sana. 

Oh iya sebelumnya perkenalkan kami Calon Ibu Haroki. Nama grup yang WA yang dibentuk pada bulan November tahun 2017. Dari semua pertemanan Saya selama kuliah S-1, teman-teman Saya yang ini yang paling bagus. Kami berteman bukan sekedar berteman, tapi memiliki tujuan. Diantara kami berlima jika dilihat dari sudut pandang manusia dan akhlakul karimah, Saya adalah orang yang paling badeur. Susah diingatkan hehehe, bahkan sepertinya sampai sekarang masih juga. Kami dulu satu tempat pengajian, sempat beberapa kali bareng murabbi yang sama. Nah saat itu, Saya yang paling sulit mengikuti liqa, karena beberapa alasan yang saat ini saya sesalkan. 

Dipertemukan dengan mereka adalah suatu kesyukuran. Bagaimana tidak bersyukur, mereka lah yang bantu Saya berproses khusunya Yuli roomet saya di D-205 Ramsis (Asrama Mahasiswa) Unhas. Dulu, obrolan kami cukup berat jika sedang berlima. Namun jika sudah masing-masing atau hanya berdua. keluarlah aslinya. Nisma yang selalu membawa keceriaan sehingga Saya tertawa lepas dan bercerita hal yang receh. Innah dengan filosofi hidupnya membuat diriku selalu bersyukur setiap saat. Iyan adalah partner serius, Saya merasa jika cerita dengan Iyan bawaanya tidak bisa bercanda, selalu ada makna dengan apa yang dibicarakan. Nah terakhir Yuli, dia cukup flexibel ketika diajak bicara tentang hal apapun, pertengahannya mereka lah.  

Waktu berjalan begitu cepat tapi saat merasakan hari-harinya terlalu berat dan lambat. Saya hanya bisa melihat mereka dari layar hape. Alhamdulillah, komunikasi tetap terhubung dengan baik. Jika kami video call maka durasinya lama karena akan menceritakan bagaimana kehidupan masing-masing. Saat ini kami semua menuju mekar, Inna dan Iyan yang menjadi pendidik di sekolah, Yuli menjadi PNS, Nisma kerja proyekan yang duitnya (hitung sendiri deh).

Berteman dengan kalian menjadi hal yang terindah dalam perjalanan hidupku sampai sekarang. Saya sangat bahagia sekaligus terharu mendengar kabar Yuli dan Nisma sudah menikah. Nanti, giliran kami bertiga. 

Saya masih ingat saat di asrama, Kami sering membicarakan tentang pernikahan, parenting dan hidup setelah kuliah nanti. Sekarang Kami semua merasakannya. Calon Ibu Haroki yang kami susun, sesuai namanya akan menjadi Ummul Madrasah penggerak dakwah Islam, yang menyebarkan nilai-nilai Islam melalui peran seorang perempuan, istri, dan ibu bagi anaknya nanti. Cinta suci yang dijaga selama ini akhirnya berlabuh pada orang yang tepat dan berkah.
Allahumma shalli 'ala Muhammad

Selamat Yul.. Berkah pernikahanmu semoga menjadi keluarga sakinah mawaddah dan warrahmah. MasyaAllah kamu cantik banget dengan baju adat warna putih. Jadi ingin bernyanyi "You look so beautiful in white"


Saturday, October 8, 2022

Flexing? Biar Apa?

Sudah lama sekali Saya ingin menulis tentang flexing (pamer). Yap jika kalian menonton youtube, atau scroll instagram dan tiktok pasti menemukan satu unggahan tentang bagaimana mereka memperlihatkan kebahagiaan melalu apa yang mereka punya.

Sebetulnya tidak ada masalah sama sekali karena itu harta mereka, juga (mungkin) hiburan bagi yang suka menonton. Mereka yang pamer kekayaan atau barang-barang branded adalah cara membahagiakan diri.  Namun, bagi Saya konten tersebut lama kelamaan menjadi toxic. Muncul rasa minder dengan apa yang mereka punya lalu sering kepikiran "Kok di usia saya yang 26 belum seperti mereka" Akhirnya insecure dan lebih parah tidak bersyukur dengan apa yang Saya peroleh.

Saya pernah hengkang dari instagram dan menghapusnya pada bulan September 2021. Hal ini dikarenakan Saya merasa teman-teman instagram selalu pamer pencapaian. Mulai dari kerjaan bagus, lulus S2, sudah menikah, jalan-jalan ke luar negeri, bertamasya dan pencapaian lainnya. Disitulah Saya memutuskan untuk berhenti dan menghapus akun karena Saya malu tidak memiliki pencapaian apapun yang bisa dibanggakan  menurut standar sosial media. Btw bukan hanya instagram, sosial media lain seperti facebook, twitter, linked in semuanya Saya hapus karena itu membuat Saya iri berkepanjangan sedangkan kondisi hidup tidak sesuai dengan yang diharapkan. 

Orang-orang yang mengupload pencapaian mungkin memiliki tujuan ingin berbagi kebahagiaan, memotivasi orang lain berharap memberi impact kepada penonton, atau ada juga yang memang ingin pamer lalu videonya terjual dan sengaja memonetisasi agar kembali modal. Yaa you knowlah yotuber atau selebgram yang seperti itu siapa. 

Tontonan-tontonan yang seperti ini sebetulnya tidak mengedukasi. Bukan tidak menghargai para content creator tapi apa untungnya bagi penonton yang pengangguran, budak koorporat ayng gajinya cukup buat biaya hidup. Melihat konten mereka sama sekali tidak membuat kaya atau termotivasi karena kastanya beda, perjalanan hidup juga beda. Impact dari tontonan itu membuat berkhayal untuk bisa seperti mereka. Kalau baca kolom komentar hampir semua komentar isinya "semoga saya bisa seperti itu juga", ada juga yang minta doa agar bisa dapat kehidupan yang lebih baik. Aduh... tapi kerjaan rebahan dan nonton video flexingnya. Gimana caranya??

In reality, tidak semudah itu menjadi kaya. Mereka yang pamer di sana tidak pernah memperlihatkan kesulitan hidupnya, atau dibalik layar. Mungkin saja mereka hanya meminjam barang, peragaan. Mereka yang di video tersenyum tidak memperlihatkan struggle hidupnya atau bahkan menangis. Namanya juga dunia maya, jelas sangat berbeda dengan dunia nyata.

Setelah Saya berpikir selama 3 bulan tanpa sosial media sampai bulan Desember 2021. Saya menyadari, ada satu kesalahn berpikir tentang memahami flexingnya mereka. Rasa iri atau insecure itu sebagai akibat saja dari apa yang tidak Saya peroleh. Selain itu kemampuan diri yang tidak dapat mengatur porsi dalam melihat dan merasakan. Pada akhirnya diri kita sendiri yang harus membuat boundaries agar terhindar dari toxic akibat flexing. 

Desember 2021, Saya membuat akun isntagram baru. Saya tetap memfollow teman-teman yang sudah bekerja, kuliah di luar negeri atau mungkin yang pamer doinya. ALhamdulillah sekarang sudah mulai berkurang rasa iri, kemudian jarang melihat mereka yang pamer jalan-jalan di reels sampai penontonnya jutaan. Ya hanya lewat saja tanpa dipikirkan atau ngomong "semoga bisa ke sana juga" karena perencanaan tak harus sama dengan orang lain. We have our own time. So don't you compare your chievements with others. 

Tuesday, October 4, 2022

Selamat Proposal Nurias




Tulisan ini akan Saya dedikasikan untuk diri sendiri. 

Sebelumnya, Saya ucapkan terima kasih kepada Nurias yang telah bertahan dan berjuang pada saat ini. Yapp.. ini bukan kali pertama Saya merasakan kebahagiaan seperti ini. Saat S1 3 kali ujian membuat Saya sudah terbiasa dengan hal seperti ini, namun tetap saja ini hal yang amat penting. Yang paling membahagiakan adalah karena momen ini sudah ditunggu selama 2 tahun. 

Lika-liku perjalanan menempuh S2 adalah hal yang amat complicated. Saya sudah menuliskannya pada postingan lain sebelum ini.. Banyak sekali tulisan tentang bagaimana Saya terpuruk, bangkit lagi, terpuruk lagi, bangkit lagi dan terus menerus sampai sekarang.

Saya merasa bersyukur, karena ternyata jalan hidup saya merasa sulit semenjak kecil. Menjadi anak broken home, kesulitan financial dan miskin, kuliah pada jurusan yang tidak diminati dan kampus yang bukan diinginkan, kemudian tidak memiliki pekerjaan tetap sampai sekarang, lalu kuliah lagi pada jurusan baru yang sampai sekarang masih beradaptasi. Pokoknya mantaaap banget. 

Inilah Saya, si tukang mengeluh dan menyalahkan hidup karena merasa paling susah dan paling kasihan lalu merasa pesimis dan terus merasa bodoh sekaligus minder. Padahal, sampai di titik ini adalah pencapaian besar, Saya bisa melewatinya tanpa cidera. Biasanya anak broken home lepas landas pergaulan, namun Saya terjaga sampai sekarang, walau saat kecil kesulitan financial, namun sekarang semuanya dapat Saya peroleh.

Sedikit cerita bahwa dahulu keluarga kami tidak punya televisi, maka setiap malam Saya menonton di tetangga. Malu? Jelas, tapi itu Ibu dan Kakak karena Saya selalu merengek minta nonton TV kepada mereka sehingga Kakak Saya selalu mencari tetangga yang berbeda untuk kami kunjungi rumahnya setiap malam agar tidak malu. Ada lagi yang paling menyedihkan dimana pergi ke supermarket adalah impian kecil dan baru kesampaian saat SMP, karena sejak SD Saya tidak pernah punya uang cukup untuk jajan ke sana. Maka saat ini, alhamdulillah Saya bisa mewujudkannya, Saya bisa pergi ke Supermarket kapanpun dan dimanapun. Entah, apakah sekarang lebih mudah atau memang uangnya cukup. 

Kuliah di luar pulau, jurusan yang tidak tahu outputnya nanti tapi Saya bertahan di sana dan menyelesaikan dengan amat baik. Beberapa tulisan tentang kehidupan selama kuliah, Saya juga menulisnya disana.

Walaupun tidak memiliki pekerjaan tetap dan tidak memiliki relasi tapi Saya harus bersyukur karena tidak harus pergi pagi pulang sore dengan jadwal ketat dan absen wajib. Ya memang setiap orang punya standar, namun standarisasi Saya sudah hilang, Saya tidak tahu seperti apa kenyamanan. Apakah harus bekerja kantoran dan mendapatkan gaji per bulan, atau menjadi freelance yang cukup uang untuk kehidupan dan tetap bisa memberikan per bulan untuk orang tua. Entahlah.

Sekolah magister saat ini adalah suatu kesyukuran juga, dimana ada orang yang cuma-cuma memberikan beasiswa tanpa ada hitam di atas putih. Mungkin agak sedikit capek pikiran dan psikologis karena tidak memiliki kebebasan menentukan hidup, namun ini bukan semata-mata keputusan sendiri. Ada banyak tangan yang ikut campur sampai di titik ini. Allah menunjukkan jalannya lebih mudah, lalu Saya ambil petunjuknya. Jika di jalan Saya capek ya bukan salah Allah tapi salah Saya karena memilih itu.

Terima kasih sekali Nurias, sudah bertahan. Selamat atas pencapaianmu di ujian proposal mendapatkan nilai A. Saya harus melanjutkan semuanya dan menyelesaikan sampai selesai. Ke depannya, Saya serahkan kepadaMu. Berikan jalan yang terbaik beserta kuatkan pundak Saya untuk terus berjuang melanjutkan hidup. Berikan kekuatan menahan diri dari segala sesuatu yang tidak dapat Saya kontrol.


Foto ini diambil pada tanggal 20 September 2022 saat selesai ujian proposal. Tidak masalah sendiri, tidak masalah belakangan, pada akhirnya "terlambat" itu tidak ada.

 

Sunday, September 18, 2022

Alhamdulillah akhirnyaa

Saya ingin berbagi cerita tentang progress menuju sidang usulan proposal.  Alhmdulillah tepat 25 Agustus 2022 dinyatakan boleh mendafrat ujian sidang. Namun, sampai hari ini jadwal Saya belum keluar juga alias belum jelas kapan waktu sidang.

Seminggu awal setelah dinyatakan boleh mendaftar, Saya mengumpulkan seluruh persyaratan. Pada pekan itu juga Saya disuruh untuk terus belajar, membaca jurnal yang berhubungan dengan Tesis dan terus merevisi proposal yang  masih terdapat typo atau hal-hal yang belum dibetulkan.

Pekan selanjutnya, masih juga disuruh untuk terus belajar sebab menurut pembimbing Saya dari Fakultas Pertanian sebelumnya dan sudah lama tidak kuliah. Alhamdulillah terima kasih sudah memberi kesempatan untuk terus belajar. Namun, jika Saya tidak bisa menjawab itu karena memang tidak tahu dan mungkin ini kemampuan Saya. 

Saya berusaha bertahan 3,5 tahun ini, menghabiskan waktu yang cukup lama untuk Saya mendapatkan lebih banyak pengalaman. Akan tetapi Saya juga harus bersyukur dengan semua yang terjadi karena semua ada peta jalannya. Namun, manusia memiliki sifat khuliqo-halua yang berarti selalu berkeluh kesah dengan apa yang terjadi dalam kehidupannya. Saya pun selalu mengalam hal yang sama. 

Bukan waktu sebentar, Saya selalu menyalahkan kehidupan, merasa tertinggal karena membandingkan, dan hasad dengan pencapaian orang. Saya berfikir, di usia sekarang sudah seharusnya bebas financial, memiliki kendaraan atau menikah. Ya.. itulah pikiran pragmatis yang selalu datang dan pergi di otak. Perlahan gugur karena idealisme dan alibi penutup bahwa manusia memiliki waktu. Hanya saja itu kembali lagi dalam jangka waktu pendek, membuat Saya tidak pernah fokus mengerjakan apapun. 

Kenapa bisa begitu? Karena tidak ada SOP yang menunjang untuk melakukan sesuatu. Saya hanya mengikuti alur, dimana alur tersebut bukanlah hal yang biasa seperti orang lakukan. Alur ini sangat acak dan kurang jelas, sehingga pencapaiannya pun acak juga.

Alhamdulillah setelah menunggu 3 pekan, akhirnya keluar juga jadwal ujian Saya. InsyaAllah akan berusaha yang terbaik. Antara terharu dan sedih ingin menangis karena jatuh bangun untuk tetap bertahan pada kondisiini. Hampir menyerah beberapa kali sambil menangis karena tidak bisa membuat Tesis bahkan sampai dikatakan belet. Rasanya Saya tidak tahan dan ingin out saja dari kampus ini atau pindah. Semua hampir telewati tinggal sebentar lagi. Saya masih ingat teman-teman di Makassar selalu memotivasi saat S1 dan terngiang-ngiang sampai sekarang "akan terlewati ji itu"  kondisinya sama, merenung memikirkan kapan lulus karena Saya mahasiswa bidik misi yang tak mampu jika harus membayar kalau tidak lulus 8 semester. Alhamdulillah terlewati ji juga. 

Alhamdulillah tsuma Alhamdulillah.. Mari lakukan yang terbaik Nurias


Catatan Akhir Tahun

Alhamdulillah sudah bulan Desember dan beberapa hari lagi sudah tahun 2023. "Manusia hanya bisa merencanakan, dan Allah yang menentukan...