Friday, May 20, 2022

Perjalanan yang Tidak Direncanakan

Assalamu'alaikum wrwb.

Hallo readers... Hari ini saya cerita tentang kegiatan kemarin (19/5). Lagi belajar buat konsisten menulis di blog, jadi menyempatkan diri. Semoga istiqamah. Sebenarnya, ini tulisan yang harus upload kemarin, tapi karena baru sempat sekarang jadi publish hari ini insyaAllah

Kegiatan kemarin seperti biasa diawali dengan bangun tidur dan mandi pagi sebelum jam 6, banyak yang mengatakan baik untuk kesehatan. Nah lanjut membersihkan rumah yaitu, pel seluruh ruangan (ruang depan, kantor, ruang tengah, ruang makan, dan teras belakang), skefo saya masih tinggal di Cimahi. Setelah itu, saya mencuci muka dan bersih-bersih kembali, lalu menyetrika baju untuk persiapan ke kampus. Tiba-tiba pukul 7.51, saya ditelpon seseorang, yang kenal dekat saya you know what i mean. Durasi pembicaraan kami adalah 50 menit dengan topik manajemen, intinya Top Leader  harus tahu apa perbedaan urusan teknis dan prinsip, tentang bagaimana menghadapi problem. Serasa kuliah Duha 3 sks. Tapi jujur sangat bermanfaat.

Setelah waktu menunjukkan pukul 09.00 saya baru berangkat ke stasiun dan mendapat kejutan dari pembimbing ternyata dia tidak bisa melakukan bimbingan karena dinas keluar kota, jadi terpaksa saya melakukan hal lain. Rencana yang unpredictable sebelumnya, yaitu saya tetap pesan tiket kereta walaupun batal ke kampus. Saya pesan tiket ke Cicalengka, tujuannya ingin duduk saja di kereta api sambil baca e-paper. Entah mengapa terlintas tiba-tiba saja dan langsung mengeksekusi. Tentu saja karena beberapa hal mendukung, seperti tiket yang murah, waktu cukup dan berada di perjalanan adalah sesuatu yang saya suka. Saya memesan tiket melalui aplikasi KAI Access jadi langsung duduk di kursi tunggu. Setelah beberapa menit menunggu akhirnya tujuan Cicalengka dipanggil dan saya ikut antri bersama orang-orang untuk check-in dengan scan barcode tiket online tadi melalui hp.

 
Perjalanannya 1 jam 44 menit, cukup untuk membaca e-paper beberapa halaman (ekspektasi), dan saya naik ke dalam kereta mengambil tempat duduk baris ketiga dari pintu masuk dan gerbong 3. Perlu diketahui Kereta Bandung Raya ini seperti kereta ekonomi  angkutan jarak jauh, namun digunakan untuk lokal khusus Bandung saja. Tidak seperti KRL Jakarta yang kebanyakan penumpang berdiri karena tidak kebagian tempat duduk, Kereta Bandung Raya masih friendly  semuanya duduk hanya saja tidak diatur seperti kereta jarak jauh, kita boleh duduk dimana pun yang diinginkan. Maksud masih friendly itu disebabkan moda transportasi Bandung masih cukup untuk para penumpang, beda dengan Jakarta yang setiap waktu mobilitas manusia sangat banyak sehingga kapasitas kereta selalu penuh. 

Selama saya di dalam kereta, realitanya tidak terus membaca e-paper, dari satu stasiun ke stasiun lain selalu ada penumpang datang dan pergi secara kebetulan di samping saya pun sama. Saat saya sampai di stasiun Kiaracondong, tiba-tiba ada seorang perempuan paru baya yang menceritakan tentang kehidupan dirinya, bagaimana ditinggallkan seorang ibu pada lebaran Idul Adha, sehingga dia tidak menyukai lebaran itu, ibunya sakit magh kronis sampai meninggal. Saya yang tidak tega mendengar ceritanya, sedikit merespon yang dia katakan, ikut berbela sungkawa, dll. Saya pikir di stasiun selanjutnya dia berhenti ternyata masih ada 2 stasiun, dan saya sudah malas mendengarkannya. Bukan apa-apa tapi tujuan saya itu ingin membaca e-paper sesekali melamun sambil menikmati jalannya kereta. Tapi yasudahlah, padahal ada beberapa spot yang layak diabadikan untuk saya foto disini tapi sepertinya sia-sia. 

Sampai di stasiun Rancaekek akhirnya dia turun, dan saya pun pindah ke belakang mencari tempat yang agak sepi. Alhamdulillah sampai Cicalengka saya sendirian, dan tujuan tercapai walau cuma 2 halaman. Baca berita itu berat ternyata.. Oiya, e-paper yang dimaksud tadi adalah Republika, saya sudah berlangganan mulai tanggal 19 dan harganya sebulan 25k. 

Cicalengka adalah stasiun terakhir, jadi semuanya turun. Saya pikir orang-orang yang kesana karena memiliki tujuan untuk datang ke Cicalengka misalnya menengok keluarga atau kepentingan apapun, ternyata banyak yang seperti saya, yang hanya sampai stasiun lalu kembali lagi membeli tiket pulang, hahahah. Saya pun membeli tiket kembali, kali ini tujuannya ke Bandung dulu, karena masih siang, tidak memiliki tujuan kemana pun saat sudah di Bandung, saya hanya ingin makan mie cup seduh Alfa express 
 
 
 
Jadi apa yang saya lakukan di Cicalengka? Saya hanya keluar melalui pintu keluar, kemudian jalan sedikit, lalu masuk lagi untuk scan barcode tiket. Saya menumpang ke kamar mandi dan ternyata toiletnya sangat bersih. Sepertinya ini toilet stasiun terbersih yang saya temukan selama hidup. Lalu saya memotret stasiun ini, tidak afdol rasanya jika pulang dengan tangan kosong.

 
 
Foto ini saya ambil saat berada di pintu kereta api. Saya sudah merencanakan saat pulang nanti jika tidak banyak penumpang, akan memotret setiap stasiun dari balik jendela saat kereta sedang berjalan. Ternyata itu pun hanya sebuah ekspektasi lagi, karena saya bertemu dengan mahasiswi S1 jurusan Hukum di Universitas Langlang Buana. Dia excited ngobrol dengan saya, jadi ya sudah kami ngobrol saja. Tapi, saya usahakan untuk tetap memotret apa yang direncanakan tadi, walaupun hasilnya sangat tidak layak. Berikut saya tampilkan foto-foto di setiap stasiun dan hasil jepretan gagal.

 
Stasiun Haurpugur  

Stasiun Rancaekek

Stasiun Cimekar

Stasiun Kiaracondong

 

Stasiun Cikudapateuh


Stasiun Bandung 

Pengambilan gambar yang sangat tidak aestethic disebabkan karena saya ngobrol terus dengan adik mahasiswa tersebut, sehingga saya tidak menyadari jika kereta sudah berhenti di stasiun selanjutnya. Terlihat pada gambar stasiun Rancaekek yang terpotret kata "Ran" karena keretanya sudah jalan kembali. Posisi duduk saya juga kurang strategis, tidak pas saat kereta berhenti tempat duduk saya tidak selalu di depan stasiun, kadang terlalu depan bahkan belakang, sehingga hasil fotonya ada yang di zoom seperti Cimekar dan Cikudapateuh.
 
Selain foto stasiun, perjalanan dari Cicalengka menuju Bandung ada beberapa spot yang bagus yaitu Stasion Gelora Bandung Lautan Api. Stasion terbesar, lagi-lagi kesalahan saya pada tempat duduk sehingga saya hanya bisa mendapatkan foto ini dengan angle manusia yang menutupinya.
 

Ada yang lebih parah dari ini yaitu foto masjid Al-Jabbar, padahal aslinya seperti ini.
 

Inilah hasil jepretan saya, dengan jarak jauh dan angle yang sangat tidak bagus, tapi tetap diupload aja.
Setelah sampai stasiun Bandung, saya turun dan mencari makanan terlebih dahulu, untuk itu saya berjalan sepanjang trotoar, arahnya belum tau mau ke mana sambil melihat beberapa hal seperti orang-orang yang sedang bekerja. Ini adalah hasil foto saat keluar dari pintu stasiun Bandung
 

 

 
 
Setelah berkeliling, saya kembali ke stasiun dan membeli tiket Bandung-Cimahi dan langsung scan barcode walaupun masih jam 13.30. Karena tujuan saya selanjutnya adalah duduk di depan Alfaexpress sambil makan mie sedap cup rasa soto sambil melihat lalu lalang manusia yang datang dan pergi.  
 

 
Setelah menunggu sekitar 45 menit, akhirnya kereta yang akan saya tumpangi datang dan saya masuk sambil menelpon urusan sekolah. Mohon maaf mungkin ini tidak sopan tapi mendesak. Sepertinya ibu disamping saya kesal dan dia pindah tempat duduk. Maaf ya Bu. Pukul 14.46 sampai di Cimahi disambut hujan deras. Semua penumpang yang turun menunggu reda dan stasiun terlihat basah di semua sisi termasuk yag saya foto, tapi keadaannya menyejukkan. 

Setelah itu, saya pulang naik angkot Baros, ongkosnya 3rb saja dan singgah dulu membeli jus mangga dan akhirnya sampai rumah pukul 15.00. Selesaaai trip kali ini. 
Berikut bonus foto-foto dan video yang saya ambil saat kereta sedang jalan.



 





Selama perjalanan, saya mengingat banyak hal tentang bagaimana harus bersyukur. Banyak orang-orang yang dalam hidupnya kesulitan, banyak pula yang kesedihan dan kebahagiaan yang mereka miliki. Saya melihat banyak orang, yang berkeluarga, masih berdua (pasutri), sudah membawa bayi, membawa 4 anak, sepasang nenek kakek, seorang diri baik laki-laki maupun perempuan. Ada pula bapak-bapak pulang kerja dengan lelahnya tertidur di kereta, wanita karir kantoran yang sibuk dengan hp nya. Ibu-ibu rumah tangga dengan anaknya pulang membawa koper besar, dan banyak yang lainnya. Intinya semua memiliki waktu, dan ada bagiannya disesuaikan dengan kemampuannya. 

Terima kasih sudah membaca. See u
Wassalamu'alaikum wrwb.


 



 
 


Wednesday, May 18, 2022

Happy 26th

Alhamdulillah tsuma alhamdulillah ... saya masih bisa hidup, menghirup udara pada tanggal 18 Mei 2022. Tahun ini merupakan tahun yang penuh dengan cobaan, namun alhamdulillah saya tetap bertahan. Terima kasih Nurias. Nama yang diberikan oleh Bapak saya karena saudara se Bapak semuanya berawalan Nur, padahal dulu nama sebelumnya adalah Wulandari.Orang bilang nama juga berpengaruh pada kehidupan. Ibu pernah mengatakan jika nama kamu Wulandari mungkin nasib kamu tidak begini. Padahal saya menyukainya terlepas banyak hal yang terjadi selama 26 tahun ini. Duh jadi melow..

Jadi foto ini diambil 20 tahun lalu, saat saya sudah masuk SD kelas 1. Zaman dulu masuk SD boleh berumur 6 tahun, beda sekarang harus 7 tahun. Saya masih ingat mengapa Ibu memaksa untuk foto disini karena akan ditinggal setiap hari karena beliau mulai membantu pekerjaan seseorang yakni ikut berjualan. Saya ingat, saat itu tidak mau di foto, karena tidak mau beliau bekerja, saya maunya ada saat pulang sekolah, tapi beliau bilang tidak apa-apa karena nanti saya menunggu kedatangannya, dan ada uang jajan tambahan sepulang sekolah. Daaan jadilah fotonya seperti di atas, dengan pose tidak siap dan menghalangi backgroundnya. MasyaAllah rindu sekali dengan Nurias umur 6 tahun, kalau sekarang dizinkan bertemu, saya ingin memeluknya dan mengatakan bahwa kamu sangat kuat. Terima kasih sudah bertahan dalam kondisi kesulitan. Hidup menjadi anak broken home tidak mudah tapi kamu bisa melaluinya anak manis.

Sambil mengenang masa lalu, saya ingin bercerita tentang perjuangan Ibu juga menjadi single parent. Pekerjaan Ibu dibayar Rp. 5.000 sehari, dengan uang itu, kami bisa memenuhi kebutuhan karena memang nilainya juga besar. Setiap hari saya membawa Rp. 1.000 ke sekolah di tahun pertama sekolah, yaitu tahun 2002. Uang tersebut saya tabung Rp. 800 dan untuk uang jajan Rp. 200. Tidak banyak jajan karena saya tahu tidak bisa meminta banyak seperti teman-teman lain. Tabungan itu saya gunakan untuk perpisahan kelas 6 nanti seperti acara wisata dan uang pembayaran akhir tahun. Jajan dengan nilai uang itu, saya menahan untuk tidak jajan mainan (lotre) saat itu menarik dan banyak hadiahnya. Yaa saya hanya bisa melihat mereka yang membelinya. Ada satu celaan yang membekas sampai saat ini, dari salah satu penjual hanya karena saya jarang membelinya, dia mengatakan bahwa  bibir saya sampai kering karena tidak mampu membeli \. Sudah 20 tahun berlalu tapi masih nyesek rasanya, ya memang saya miskin, karena saya tidak bisa memilih orang tua saat lahir. Saya juga tidak mau hidup sebagai anak broken home, salahnya dimana, saya hanya dilahirkan itu saya pikirkan ketika mengingat hal tersebut.

Banyak kesulitan tapi juga banyak kebahagiaan waktu itu. Saya bahagia dan bangga memiliki Ibu pekerja keras, yang selalu bahagia dan tidak pernah menuntut anaknya untuk menjadi apa saat dewasa. Ibu baru menuntut saya saat sudah capek menghadapi kehidupan mengapa tidak seperti yang lain, walaupun pada akhirnya tetap saya yang menang. Bukan tidak ingin memenuhi tuntutannya, hanya kondisinya memang belum saatnya. Untuk itu, saya bahagia saat diizinkan untuk sekolah SMP padahal saat itu, teman-teman banyak yang tidak melanjutkan, saya juga bahagia saat diperbolehkan masuk tingkat SMA, di saat teman-teman bekerja dan menikah, dan paling bahagia saat diperbolehkan kuliah walaupun harus jauh dan ada yang melamar untuk serius tapi saya memilih untuk kuliah, dan Ibu mengiyakan, beliau bilang "terserah ias saja". Sampai saat ini 26 tahun sudah saya hidup, Ibu masih memperbolehkan apapun yang ingin saya lakukan, dia tidak egois. Saya tidak meminta apapun kecuali diizinkan untuk sekolah saja. Saya tahu mengapa Ibu tidak banyak menuntut karena dia tahu bahwa ada luka pada saya dan ibu merasa tidak pernah bisa membahagiakan saya seperti anak-anak yang lain. Padahal saya bahagia. Broken home atau single parent, sesuatu yang harus diterima. 

Transformasi foto dari 2002, 2005, 2006, 2007, 2008, 2009, 2011, 2014, 2018, saya masih merasa tetap sama dan tidak merasa tua. Hehhe. Saya amat bersyukur diberi nama Nurias, dilahirkan dari rahim seorang Ibu yang kuat, diberi cobaan seperti ini, sampai sekarang saya bangga menjadi Nurias dapat bertahan walaupun seringkali meratap dan menyesal sebelumnya. Dua puluh enam tahun hidup di dunia, saya banyak melalui hal yang membahagiakan, menyedihkan, mengharukan. Mulai saat ini, saya tidak akan sedih dan berhenti meratapi nasib. Saya harus sudah menatap ke depan, tidak apa-apa 26 tahun belum memiliki apapun seperti orang lain, yang harus saya lakukan tetap berjalan, menjalani hidup, menyelesaikan apa yang harus saya selesaikan dan menerima semuanya dengan ikhlas. 

Selamat Ulang Tahun Nurias

Barakallah fiik sayang. 

 

Tuesday, May 17, 2022

Sari Kue Dorayaki

 


Hari ini saya ke kampus lagi, niatnya mau bimbingan eh tidak jadi karena pembimbing bilang hari ini S1 dulu. Saya berangkat pada pukul 8 pagi untuk naik kereta commuter Cimahi - Bandung, namun sebelumnya saya sempat membeli roti dan air minum di Indomart stasiun. Roti yang saya beli adalah merk Sari Roti tapi namanya Sari Kue yaitu dorayaki. 

Sebetulnya setiap datang ke Indomart, saya sudah tertarik membeli roti tersebut, namun belum tepat timingnya dan akhirnya saya membeli roti ini. seperti ini lah bentuknya ...

 
Saya sebut saja ini roti, walaupun namanya kue, karena memang pabrik produksinya dari Sari Roti. Kalau dari bentuknya yang bulat, mungkin sama saja dengan roti yang lain, hanya teksturnya yang unik. Sesuai namanya dorayaki, roti ini memiliki rongga-rongga. Kalau dalam bahasa Sunda, dorayaki itu kue surabi, di kampung saya Majalengka sorabi penyebutannya dan rasanya asin (sorabi oncom) saja. Namun, di Bandung kue surabi sudah berbagai macam rasa, selain sorabi oncom, ada yang keju, strawberry, coklat dan lain-lain, yaa mirip martabak gitu. 
 
Sari roti dorayaki ada beberapa varian rasa, ada coklat, keju, strawberry, mocca, kacang dan lain-lain. Kebetulan yang saya beli adalah rasa coklat. Terlihat pada gambar di atas, di dalam roti ketika kita makan terdapat rongga-rongga, tapi tetap lembut saat di makan dan rasa coklatnya enak, khas sari roti. Untuk harganya Rp. 5.500 ya, menurut saya pribadi untuk worth it,  sama dengan sari roti sandwich tapi jujur, saya lebih suka yang sandwich. Roti ini bentuknya unik, dan saya baru ingat ternyata roti ini mirip sama pancake hehehe 

Sekian dulu yaa. 
Terima kasih sudah membaca.

 
 
 
 



Monday, May 16, 2022

Bogor lagi !!

 

Tiga tahun berlalu saya mengunjungi Bogor untuk kepentingan persiapan S2, kali ini saya kesana untuk menemui salah satu teman dekat dari tahun 2014. Namanya Iwe Cahyati, perempuan Bima yang sekarang sedang menempuh pendidikan S2.

Tahun 2020, sebelum pandemi dia sempat ke Bandung untuk mengikuti Pendidikan Bahasa di Universitas Pendidikan Indonesia, bagian dari program beasiswa LPDP. Kedatangannya saya tulis di blog pada tulisan ini. Semenjak pandemi terjadi dia pulang ke kampungnya, dan kami baru ketemu lagi kemarin (15/5). 

So... perjalanan dimulai.

Jadi Iwe datang tanggal 9 Mei ke Bogor untuk menyelesaikan penelitiannya, dan jauh hari sebelum ke Bogor sering komunikasi, salah satu isi obrolannya tentang saya yang akan menemui Iwe di Bogor. Saya meminta izin pada Bapak hari Jumat dan alhamdulillah diizinkan, beliau bilang "jika ada teman kuliah saat di Makassar dan sedang di Jawa khususnya Jawa Barat, tengoklah, sekalian tanyakan pula kesulitannya, dan bantu". 

Setelah berdiskusi dan meminta izin, saya langsung hunting tiket kereta, sayangnya sudah sold out semua. Kemudian saya mencari tiket bis Bandung - Bogor, namun setelah dipikir kembali, jarak rumah ke terminal Lw Panjang Bandung cukup jauh, dan bis agak sedikit lambat, walaupun plusnya saya langsung ke Bogor tanpa harus transit Jakarta. Beberapa jam kemudian, saya membuka kembali aplikasi KAI Access dan ternyata ada kereta tambahan ke Jakarta. Terdiri dari Argo Parahyangan kelas Eksekutif dan Premium, harganya beda Rp. 40.000, yaitu untuk eksekutif Rp. 170.000 dan premium Rp. 130.000 Untuk transportasi kereta api, diwajibkan rapid test untuk penumpang yang baru vaksin 2, sehingga saya memutuskan untuk mengambil kelas Premium yang harganya Rp. 130.000, bedanya hanya pada kursi saja. Untuk fasilitas umum seperti toilet, AC, TV masih tetap dapat. 

Saya berangkat hari Sabtu, tanggal 14 Mei 2022 pukul 09.02. Dari rumah sudah berangkat pukul 07.30, langsung rapid test pada pukul 08.00 dan alhamdulillah hasilnya positif. Untuk harga sekali tes yaitu Rp. 35.000, walaupun sudah beberapa kali tapi tetap saja air mata jatuh, pada saat hidung dimasukkan kit untuk pengambilan sampel. Setelah selesai, saya menunggu kereta sekitar 45 menit dan tibalah kereta datang. Untuk tempat duduk, saya memilih tempat PRE-4 / 8A, yang artinya Gerbong Premium A dengan kursi nomor 8A. 

Kereta mulai jalan menuju Jakarta, di dalam gerbong yang saya tumpangi tidak penuh hanya ada beberapa orang saja. Perjalanan dari Cimahi ke stasiun Jatinegara membutuhkan waktu 2,5 jam. Sepanjang perjalanan saya melihat banyak pemandangan yang hijau memanjakan mata, kemudian melintasi terowongan terpanjang di Indonesia yaitu terowongan Sasaksaat yang berada di Bandung Barat lalu ada pula jembatan Cikubang, yang jika kita melihat ke jendela terdapat pemandangan yang indah.Sayang sekali saya tidak mengambil video, tapi pembaca bisa klik link yang terdapat garis bawah untuk mengetahui penjelasannya. 

Selama perjalanan, saya tertidur kurang lebih 45 menit dan tersadar sudah berada di Cikampek. Kemudian tak terasa kereta sudah berhenti di Bekasi untuk menurunkan penumpang tujuan Bekasi. Saya langsung menghubungi teman yang ingin bertemu lebih dahulu sebelum ke Bogor, kebetulan dia adalah teman saat saya belajar bahasa Inggris, namanya Endah, saya panggil dia Teh Endah karena usia kami berbeda dua tahun, walaupun dari tampilan, kami seperti masih anak remaja. 

Saya turun di Jatinegara tepat pukul 11.37 WIB, saya turun dan mencari pintu keluar KA jarak jauh. Beberapa kali saya berputar ke arah yang sama, bingung karena stasiun ini banyak berubah sejak terakhir saya ke sana tahun 2020. Setelah saya menunggu di pintu keluar, akhirnya bertemu dengan teh Endah. Kami berpelukan dan bercerita tentang masa lalu, masa kini dan nanti rencana pada masa yang akan datang. Setelah puas bercerita, kami melanjutkan perjalanan menuju stasiun Manggarai, sebelum akhirnya berpisah karena saya akan ke Bogor dan rumah Teh Endah di Tangerang. Sebelumnya, saya membeli kartu KRL terlebih dahulu, karena untuk kesana harus melewati palang pintu. Kartu berwarna hitam dengan harga Rp. 30.000 termasuk di dalam terdapat saldo Rp. 10.000 saya gunakan untuk ke Manggarai dan Bogor. 

Saat transit di Manggarai, saya dan Teh Endah melaksanakan sholat dzhur terlebih dahulu dan mengambil beberapa foto kami berdua, sebagai kenang-kenangan setelah 3 tahun tidak bertemu. Kami pun berpisah di stasiun Manggarai pada pukul 13.51 WIB. Daan saya melanjutkan perjalanan ke stasiun Bogor. 

Setelah kurang lebih 1 jam, saya sampai di stasiun Bogor, dan langsung mencari pintu keluar. Tahun 2019, hanya ada satu pintu keluar, sekarang ada pintu keluar yang langsung menuju Alun-alun kota Bogor. Saya langsung memesan ojeg online dan menuju Dramaga tempat kosan teman yang dituju yaitu Iwe. Setelah melihat kembali jarak dan ongkos ke Dramaga dari Alun-alun, ternyata jaraknya jauh, hampir 10 KM. Bogor tetap macet, hampir 30 menit dari Alun-alun ke Dramaga padahal sudah naik ojeg. Sepanjang perjalanan saya sudah sangat lelah, mengantuk dan ingin cepat sampai.Hati sudah gembira dan sedikit lagi kan sampai pada kosan tempat teman saya tinggal, ternyata terlewat dan kang ojeg putar balik. 


 

Akhirnya saya bisa bertemu dengan Iwe, orang yang saya rindukan. Kami berteman sejak tahun 2014 pada saat semester awal, walaupun tidak terlalu akrab tapi semakin lama kami semakin akrab dan entah mengapa belum menemukan teman yang sefrekuensi tempat saya bercerita. Saya merasa aman jika Iwe yang mendengarkan cerita hidup saya. 

Setelah istirahat sebentar, kami berencana ke Botani Square, niatnya mau nonton KKN Desa Penari, tapi karena terlalu mahal harga tiketnya, jadi kamu putuskan untuk makan saja. Yaa.. kami makan di Ramen Ya. Ditraktir Iwe, masyaAllah semoga rezekinya semakin banyak.Setelah makan, kami berkeliling sebentar menikmati keramaian mall, walaupun Iwe sebetulnya tidak terlalu menyukai, tapi demi saya wkwkw. Setelah puas berkeliling kami pulang dan istirahat melanjutkan kegiatan besok paginya

Keesokan harinya, saya dan Iwe pergi ke kampus menemui salah satunya temannya sambil melihat pembuatan sampel nematoda. Saya hanya duduk dan diam melihat mereka bekerja, jadi wisata masa lalu, dimana juga saya melakukan itu saat praktikum, mencari cacing-cacing kecil penyebab penyakit akar. Kalau dipikir-pikir prejalanan untuk bisa sampai ke titik ini benar-benar melelahkan jika harus diakhiri dengan kata "sudahlah". Syaa harus ke Makassar dan bertemu dengan banyak orang dan luka-luka, experience  yang membuat saya menjadi lebih kuat saat sekarang. 


 

Setelah berkeliling kampus sambil deeptalk, saya akhirnya izin pamit pulang. Pulang kali ini saya memilih untuk naik bus MGI dengan harga tiket Rp. 80.000 dengan jam berangkat pukul 16.00 dan sampai pada pukul 20.00 di Bandung. Saya berangkat dari Dramaga naik ojeg online ke terminal dengan ongkos Rp. 41.000. Jika dibandingkan dengan berangkat, maka ini lebih murah, sayangnya.....

Ada cerita lucu saat pulang menuju Cimahi. Kebetulan bus ini turun di Bandung, jadi saya dan lainnya ang akan ke Cimahi diturunkan di tol dan saat itu benar-benar saya tidak mengerti mengapa kami diturunkan disana. Setelah turun, saya langsung mengikuti mereka yang masuk ke kolong pagar tol dan melewati jalanan berlumpur, serta banyak rumput liar, ditambah hujan dan gelap. Saya tidak habis pikir mengapa mau diturunkan di tempat seperti ini. Padahal jika saya memilih turun di Bandung, maka tidak akan sesulit ini. 

Akhirnya, saya sampai pada warung cimol, penjualnya bertanya mau kemana, dan saya tidak menjawab karena masih takut jika mereka akan menipu. Saya dengan muka yang stay cool tetap tidak mau diajak oleh ojeg pangkalan, tetap mencoba memesan ojeg online, tapi sayang berulang kali tetap tidak dapat. Hingga akhirnya, waktu menunjukkan pukul 19.30 dan semakin malam, saya terpaksa mau diantar oleh ojeg pangkalan. Kondisi motor yang menggunakan knalpot bising dan jok yang sempit, ditambah dengan barang bawaan, saya masih mendumel mengapa tidak turun di Bandung. Pemilihan jalan yang dilakukan oleh ojeg online membuat saya ngeri. Jalanan gelap bawah tol dan kecil ditambah sepi, saya mulai ketakutan. Bermodalkan tusuk cimol saya memiliki ide jika terjadi sesuatu, maka matanya yang akan saya colok terlebih dahulu. Namun ternyata itu hanyalah pikiran kotor dan imajinasi was-was. Alhamdulillah saya sampai dengan selamat pukul 20.00 walaupun baju dan tas kotor karena cipratan air sepanjang perjalanan. 


Terima kasih sudah membacaaa.. 

See u next time.


 

Friday, May 13, 2022

Alhamdulillah a'laa kulli haal

Beberapa postingan sebelumnya tentang ketidakjelasan hidup membuat saya berpikir, mengapa sulit sekali merencanakan karena dalih selalu dihancurkan. Alhmdulillaah sekarang sudah tidak seperti itu lagi. Kini saya sudah tau arahnya selesai S2 dan akan menghabiskan waktu seperti apa selama hidup.Semoga konsisten dan tidak berubah. 

Yaaap. Saya akan mengabdi di sekolah tercinta, Madrasah Aliyah Putri PUI Talaga. Sekolah tempat saya bertumbuh dari seseorang yang penakut, tak punya perencanaan hidup menjadi orang yang pemberani dalam mengambil risiko, melakukan sesuatu yang saya inginkan. Layaknya putaran roda yang belum berhenti dan terus menunggu seperti apa. Alhamdulillah sekarang sudah berpihak pada saya. Kini merasa lega dan tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus dicapai dan mempercepat penyelesaian sesuatu yang menjadi hambatan untuk maju yaitu S2. Tahun ini harus selesai. tidak apa terlambat asal tidak mundur dan tidak mencoba sama sekali.

Saya hanya terus berdoa semoga Allah terus mengistiqamahkan apa yang menjadi rencana saya dan terus ada dalam perjalanan ini. Saya kira ini menjadi bekal buat saya mempersiapkan kematian. Saya ikut andil dalam adanya perubahan kehidupan, membentuk generasi peradaban untuk Islam.  

Selain hal di atas, saya juga punya informasi tentang perkembangan tesis. Alhmdulillah sudah beres proposalnya tinggal direview sama dosen pembimbing. Jika disetujui saya bisa melaksanakan ujian proposal. Semoga bisa bulan ini Aamiin. 

Tentang target yang tidak tercapai tepat waktu, ya tidak apa-apa. Mungkin ada hikmah dibalik kejadian itu. Tetap harus bangga pada diri sendiri yang sudah mencoba.

Perjalanan yang Tidak Direncanakan

Assalamu'alaikum wrwb. Hallo readers... Hari ini saya cerita tentang kegiatan kemarin (19/5). Lagi belajar buat konsisten menulis di blo...